Senin, Mei 02, 2016

Siapa yang tau???

Ada yang bilang, sekolah adalah dampak (positif) dari paham kapitalisme. Dalam sejarahnya dikatakan, paham kapitalis hadir karena paksaan lingkungan. Paksaan lingkungan yang dimaksud adalah kesuksesan seseorang dilihat dari aset ekonomi yang dimilikinya. Bahkan ektrimnya, paham ini sampai kepada penentuan seseorang masuk surga atau tidak didasari oleh kesuksesan duniawi. Paham inilah yang akhirnya menjadikan si empu kekuasaan berfikir untuk melipat-gandakan keuntungan. Saat seseorang memiliki pabrik kayu, cara yang tepat untuk meningkatakan penghasilan adalah mendirikan pabrik kayu sebanyak-banyaknya. Namun, dengan keterbatasan yang dimiliki, pabrik harus memiliki pengelola yang mengerti cara produksi dan tentunya sesuai dengan si empu pabrik-pabrik tersebut. Kebutuhan tenaga kerja ini akhirnya melahirkan sebuah sistem yang memungkinkan orang lain mempelajari cara produksi, yang tidak lain adalah pendidikan.
Dalam proses pendidikan, dalam konteks ini adalah belajar. Sekolah digerakkan oleh guru yang menginterpretasikan ilmu kepada siswanya. Dalam kata lain, guru hadir sebagai jembatan murid dengan ilmu. Guru dalam mentransfer ilmu yang dimiliki menggunakan banyak media, diantaranya adalah buku sedangknan buku berkaitan dengan kegiatan belajar. Kegiatan belajar dapat terbagi menjadi kegiatan belajar di lingkungan sekolah dan kegiatan belajar di luar lingkungan sekolah.
Jika dikaitkan dengan sekolah, perpustakaan adalah sebuah pranata yang lebih mengarah kepada kegiatan belajar di luar lingkungan sekolah. sedikit berbeda dengan kenyataannya, ada juga sekolah yang memiliki perpustakaan. Sebab inilah, lahirnya sebuah jenis perpustakaan baru, yakni perpustakaan sekolah.
Perpustakaan sekolah sejatinya bukan hanya sekedar ruang penyimpanan buku. Perpustakaan sekolah yang menyimpan buku koleksi juga dituntut untuk memenuhi fungsi utamanya yaitu memaksimalkan keterpakaian koleksi yang dimiliki. Upaya yang dilakukan dalam memaksimalkan koleksi yang dimiliki salah satunya adalah menjembatani siswa dengan perpustakaan. Siswa akan dapat mengenal perpustakaan, jika ada yang mengenalkan kepadanya. Orang yang tepat dalam mengemban tugas ini, tidak lain adalah pustakawan. Pustakawan salah satunya bertugas untuk menghubungkan koleksi dengan siswa sehingga pemaksimalan keterpakaian koleksi yang dimiliki perpustakaan dapat tercapai.
Namun, realitanya apakah begitu? Pustakawan dan perpustakaan apakah sudah menjalankan tugas sebagaimana mestinya? Atau malah, perpustakaan dan pustakawan hanya sebauh aksesoris untuk kelengkapan akreditasi sekolah saja? siapa yang beranggung jawab atas ini semua?

SELAMAT HARI PENDIDIKAN 2 MEI 2016. SEMOGA PENDIDIKAN DI INDONESIA SELALU BERKEMBANG BERIRINGAN DENGAN PERKEMBANGAN PERPUSTAKAANNYA

Kamis, April 07, 2016

Wabah Tekno-Stress di Perpustakaan


Alam takambang manjadi guru. Kalimat itu adalah falsafah hidup yang dipedomani oleh masyarakat Minangkabau. Tulisan ini mungkin saja sangat subjektif karena memang saya berdarah Minang. Namun bukan hal ini yang menjadi fokus saya. Masyarakat Minang memegang erat falsafah hidup tersebut. Itulah mungkin yang menuntun mereka untuk menggapai kesuksesan di tanah rantau.
Ungkapan itu berarti bahwa manusia bisa belajar dari alam. Maksudnya, ilmu bisa didapat dari pengalaman atau dari refleksi terhadap fenomena-fenomena alam yang disaksikan. Seseorang yang mampu mempelajari pengalamannya atau mampu merefleksikan apa yang ia indra di bentangan alam akan mendapatkan sebuah kebijaksanaan untuk menghadapi kehidupan.
Hewan merupakan bagian dari alam. Sebagaimana hukum rimba adalah ‘yang kuat memakan yang lemah’, hewan memiliki kemampuan instingtif untuk mengelabuhi musuh atau predator. Dua diantaranya adalah mimikri dan autotomi. Mimikri adalah pemiripan atau peniruan, baik secara fisik maupun perilaku. Sementara autotomi adalah perilaku memutus ekor pada cicak untuk mengelabui musuhnya. Kedua strategi tersebut adalah untuk bertahan hidup.
Lantas, apa hubungannya dengan dunia kepustakaan?
Disebutkan di awal, bahwa alam takambang manjadi guru. Strategi mimikri dan autotomi setidaknya bisa diambil pelajaran bagi dunia kepustakaan.
Dunia perpustakaan erat kaitannya dengan informasi, teknologi, berikut perkembangannya. Dengan perkembangan teknologi yang tak terbendung beberapa dekade terakhir, maka dunia kepustakaan termasuk ranah yang menghadapi segala tantangan dan menerima segala pengaruh darinya.
Dalam bentuk konvensional, perpustakaan bisa saja dipahami hanya sebagai kumpulan buku yang disusun dan diorganisir sedemikian rupa sehingga dapat ditemukan dengan mudah. Dengan tata kelola seperti itulah buku-buku terjaga dan bisa digunakan secara efektif. Tata kelola ini juga dengan tanpa beban bisa disebut ‘perpustakaan manual’. Hal ini lantaran segala pelayanannya, baik referensi maupun sirkulasi, ditangani secara manual.
***
Telah disebutkan bahwa perkembangan teknologi telah merubah banyak hal, termasuk dunia kepustakaan. Perpustakaan konvensional secara bertahap berubah dan berkembang. Hal ini umpamanya terlihat dalam hukum ilmu perpustakaan yang kelima, yang menyebutkan bahwa “a library is a growing organism”. Bukan hanya itu, Five laws of Library Science ini pun juga didukung dan dikembangkan oleh seorang pakar ilmu perpustakaan, Michael Gorman, dengan mengusung lima hukum baru; Five New Laws of Librarianship. Terkait teknologu, Gorman menyebut “use technology intelligently to enhance service”.
Sebelumnya, seorang pakar lainnya, Shiyali Ramamrita Ranganathan, menyatakan perpustakaan harus menjadi lembaga yang dinamis. Ini berarti perpustakaan mutlak tidak statis. Perpustakaan harus melakukan perkembangan, baik secara sistem, layanan, koleksi, fisik perpustakaan, teknologi dan sebagainya. Sepertinya Gorman seide dengan Ranganathan, makanya ia mengembangkan teorinya. Kedua pakar ini menekankan bahwa sudah selayaknya perpustakaan berkembang diri dengan mengintegrasikan dirinya dengan teknologi baru. Teknologi hendaknya menjadi solusi atas semua masalah dalam meningkatkan efektifitas layanan.
***
Namun, tidak selamanya perkembangan teknologi dapat diterima dan tidak semua orang menerimanya. Sejumlah pustakawan mungkin dengan cepat dapat menyesuaikan dengan gaya hidup digital. Karena itu, mereka dengan cepat bisa mengadaptasi gaya hidup tersebut dalam sistem dan manajemen perpustakaan. Akan tetapi, tidak sedikit pula pustakawan yang gagap. Mereka tidak bisa merekondisi perpustakaan.
Dari tangan-tangan pustakawan jenis pertama, kita telah menyaksikan transformasi perpustakaan ke bentuk yang lebih advance dan technologically-furnished. Ini bisa kita lihat umpamanya di perpustakaan-perpustakaan kampus.
Akan tetapi masalah besar bisa kita lihat, umpamanya, pada perpustakaan di sekolah-sekolah. Pemustaka utamanya adalah anak-anak sekolah. Dunia mereka sudah sangat dekat dengan gadget, tak berbeda dengan para mahasiswa. Ketertarikan mereka juga kuat terhadap gadget. Akan tetapi, pada saat yang sama, pustakawan di sekolah-sekolah tidak mampu mereformasi perpustakaan dengan perkembangan teknologi yang ada. Hasilnya, perpustakaan tidak berhasil menjadi hal yang menarik bagi mereka.
Hal ini merupakan kesenjangan yang terjadi di dunia perpustakaan. Pemustaka selalu berlari mengikuti perkembangan teknologi. Sedangkan pustakawan masih tertatih-tatih untuk memperbaiki dan menyiapkan sistem dan manajemen agar perpustakaan tidak ditinggalkan oleh masyarakat.
Fenomena ini tidak asing di lingkungan kita. Setidaknya, peristiwa ini menggambarkan apa yang diistilahkan oleh seorang pakar, Craig Brod (1984:16) dengan technostress. Ia mendefinisikan istilah ini dengan:
“… a modern disease of adaptation caused by an inability to cope with the new computer technologies in a healthy manner. It manifests itself in two distinct but related ways: in the struggle to accept computer technology, and in the more specialized form of over identification with computer technology.
Di dunia perpustakaan, bentuk technostress beragam, mulai dari pustakawan senior yang pasrah dengan perkembangannya sampai kepada pemustaka yang tidak bisa lepas dengan teknologi. Pustakawan senior merasa bahwa perkembangan teknologi bukanlah bagian dari kesempatan mereka untuk mengembangkan diri. Perkembangan teknologi semata-mata untuk generasi setelahnya sehingga pengembangan sistem perpustakaan pun diserahkan kepada generasi selanjutnya. Padahal, saat ini mereka lah yang berotoritas dan bertanggung jawab untuk mengembangkan perpustakaan.
Dalam perkembangan ini, pustakawan atau lembaga institusi perpustakaan selayaknya merenungi kedua strategi bertahan hidup hewan sebagaimana di atas. Jika mereka tidak melakukan mimikri atau autotomi, mereka akan menjadi santapan empuk predator. Maka, dalam hal ini, jika perpustakaan tidak melakukan hal yang sama, maka perpustakaan akan mati dimakan oleh perkembangan teknologi itu sendiri.


Sumber Bacaan
Aghwotu, Tiemo Pereware. 2010. “Technostress: Causes, symptoms and coping strategies among Librarians in University libraries”  Educational Research (ISSN: 2141-5161) Vol. 1(12) pp. 713-720 December 2010
Furniss, Richard D. 2014. “Technostress Effect on Task Productivity in Radiologic” Proquest LLC.
Gorman, Michael 1995. “Five New Laws of Librarianship”. Diakses pada http://bit.ly/1VCteiy. Pukul 11.53 18 November 2015.
Zulaikha, Sri Rohyanti. 2008. “Kontibusi S.R. Ranganathan dalam Perkembangan Ilmu Perpustakaan Dewasa Ini”.  Diakses pada http://digilib.uin-suka.ac.id/364/ 18 November 2015 05.09

artikel juga di terbitkan di sini

Rabu, April 06, 2016

Misi Besar Perpustakaan

Jika mendengar kata perpustakaan, yang ada dalam benak kita adalah ruangan atau gedung yang berisi banyak buku yang tersusun di rak dan dapat dipinjam. Perpustakaan sejatinya memang sebuah tempat; tapi bukan sembarangan tempat. Di sinilah tempat hasil karya, cipta, dan upaya keras para intelektual untuk generasi berprestasi.
Ada elemen penting yang ada di dalam perpustakaan. Sebutlah buku, atau yang diistilahkan juga bahan pustaka. Sama halnya dengan benda lainnya, buku juga membutuhkan pemeliharaan dan pelestarian. Tujuan awal dari pelestarian bahan pustaka dan arsip adalah melestarikan kandungan informasi bahan pustaka dan arsip agar semua koleksi itu bisa bertahan lama dalam keadaan baik walaupun telah sangat usang.
Pelestarian ini dapat dilakukan dengan pemeliharaan fisik sebagaimana aslinya atau pengalihan bentuk ke media lain. Tujuannya tentu saja agar bahan pustaka dapat digunakan dan dimanfaatkan lebih lama. Inilah tugas dari pustakawan, sebagaimana disebut seorang pakar kepustakawanan, Prof Sulistyo-Basuki. Ini bukanlah tugas yang mudah. Dari dulu hingga sekarang, selalu saja ditemukan ‘musuh` dari bahan pustaka, yaitu manusia itu sendiri. Terutama untuk Indonesia yang beriklim tropis, musuh bahan pustaka juga datang dari hewan (misalnya rayap, tikus dan sebagainya), mikro-organisme, cuaca, serta berbagai bencana alam.
Preservasi dan konservasi pada dasarnya adalah pemeliharaan bentuk fisik. Akan tetapi, perlu disadari, bahwa ada sesuatu hal yang lebih besar di belakang sana. Bukan hanya pemeliharaan fisik, konservasi dan prefervasi bahan pustaka menjaga kekayaan intelektual. Kekayaan intelektual itulah yang menjadi warisan berharga bagi generasi mendatang.
Dengan memelihara kekayaan intelektual, maka seorang pustakawan telah menjaga peradaban, kebudayaan, bahkan perekonomian. Mari kita ambil satu contoh perpustakaan yang pernah dikenal dalam peradaban Islam di Baghdad, Baitul Hikmah. Sejarah mencatat bahwa Baitul Hikmah telah menjalankan fungsi universitas; membantu pengembangan belajar, mendorong penelitian, dan mengurusi terjemahan teks-teks penting. Dari aktifitas tersebut, Baitul Hikmah menyimpan sejarah, baik dalam dirinya sendiri, maupun dalam apa yang dimilikinya (koleksi buku-bukunya).
Koleksi-koleksi Baitul Hikmah, termasuk koleksi terjemahan yang tersimpan di dalamnya, telah mengalami tahap pemeliharaan khusus. Saat ini, semua itu menjadi bukti sejarah bagi perkembangan peradaban Islam. Dengan kata lain, peradaban Islam tersebut terpelihara dalam bentuk fisik di perpustakaan Baitul Hikmah.
Pemeliharaan bentuk fisik tersebut berarti kebudayaan Islam masih bisa dipelajari dan dilestarikan hingga saat ini. Dengan demikian, apa yang dipelajari oleh generasi saat ini merupakan hasil dari upaya konservasi bahan pustaka yang telah dilakukan oleh pendahulu. Dengan mafhum mukhalafah, karya-karya yang tidak tersimpan dan terjaga saat ini tidak lagi bisa dipelajari. Kebudayaan yang dikandungnya telah musnah.
Dengan demikian, memelihara bahan pustaka tidak sesederhana memelihara bentuk fisik sebuah bundelan buku. Ia memiliki misi yang sangat penting. Diceritakan bahwa Nabi Musa pernah memerintahkan seseorang untuk menyelamatkan buku Pantateuch dengan cara melapis dengan minyak ara kemudian dimasukkan ke dalam periuk tanah.
Dari sini, dapat kita pahami bahwa pemeliharaan bahan pustakan adalah sebuah tanggung jawab yang besar. Lalu, siapakah yang bertanggung jawab? Apakah si ‘penjaga buku’ atau pustakawan?
Kita semua bertanggung jawab!

artikel juga diterbitkan dalam surauparabek.com . dapat diakses disini

Minggu, April 21, 2013

anak Ilmu Perpustakaan juga bisa SUKSES


saat belum menemukan apa yang dimaksud dengan "tujuan"


Munit, Nita,, begitu orang-orang memanggilku. Tak ambil pusing dengan semua itu. Namaku yang dianugerahkan dari orang tuaku, Rahmi Yunita yang dilahirkan 19 tahun 10 bulan yang lalu. Huft.. gak tau dimana kemampuanku sebenarnya. Berawal dari kelas IV (1 aliyah) disebuah ponpes di Bukitiinggi. Saat interview jurusan, ku putuskan untuk konsentrasi di bidang Ilmu Pengetahuan Alam. Berbeda dengan anak yang lainnya, aku yang masih “galau” dengan jalur akademik yang ku pilih. Ku lalui dengan semangat yang 50:50. Tapi alhamdulillah kita seangkatan lulus 100% yang merupakan angkatan ke-dua IPA di sekolahku.

Senin, April 15, 2013

Pasca Cetak ???? udah nonton belum..??



Di parkiran,, sebelum menggiring motor menuju pondok tercinta. Ku lihat sebuah pemberitahuan yang bertuliskan “Diskusi dan Launching Film Pasca Cetak”. Saya pun langsung memusatkan perhatian ke jadwal acara itu diadakan. Selasa, 5 Maret 2013,, mmmm... alhamdulillah tak ada jam kuliah saat itu, kebetulan sekali kuliah sore di hari Selasa. Saya harus bergabung di convention Hall UIN Sunan Kalijaga apapun keadaannya.
Selasa, 5 Maret 2013
Pagi yang kuawali dengan doa bangun tidur dan senyum “paksaan” sebanyak 3 kali. Hal yang selalu ku lakukan meskipun dipaksa J aneh memang, tapi emang seperti itulah saran dari seorang kakak yang diyakini membuat seharian kita semangat dan tetap ceria.
Benar sekali, Selasa yang hujan, deres. Membuat teman2 sepondok pun jadi dilema tentang status mata perkuliahan pagi ini, masuk atau tidak, kendati hujan yang tak kunjung henti. Tak sedikit yang menunggu hingga hujan sedikit reda dan ada juga yang kembali merusak dandanannya, serta kembali mengenakan pakaian “tidur”. 
Singkat cerita, ku giring motor dan tak lupa menggunakan mantel untuk melindungi diriku dari hujan yang sangat deres. Mengenakan kaos hitam kebanggaan yang bertuliskan “Ilmu Perpustakaan dan Informasi” yang tercetak kuning. Melangkah dengan sedikit berlari menuju CH UIN SUKIJO. Sesampai di lokasi, ternyata belum terlalu rame, karena halangan hujan. Ku daftarkan nama di daftar kehadiran di daftar peserta diskusi.
Acara yang diawali dengan pembacaan kalam illahi yang berhasil bikin para hadirin senyap ketika dengan lantunan yang sangat merdu, cukup membuat para hadirin menjadi semakin geram karena telalu lama dibikin penasaran dengan film Pasca Cetak. Sebelum diskusi, narasi singkat yang dilakoni oleh pameran utama yang memerankan Annisa ini membuat semua tercengang dan dimanjakan dengan kalimat2 yang begitu WOW. J
Diskusi yang dimoderatori oleh Pak Dosen M. Ainul Yaqin, dengan gaya yang begitu santai, lagi-lagi beliau bikin ku geram dengan kalimat-kalimat yang dilontarkan.. huft.... J J Ibu Yuniwati Yuventia yang datang jauh2 dari Semarang memberikan ilmu yang sangat berharga bagi kita calon pustakawan. Diikuti oleh penjelasan yang bikin heboh oleh Ibu Dosen Labibah Zein. Kenapa tidak, kalimat “mahasiswa Ilmu perpustakaan UIN Sunan Kalijaga itu creatif dan gila, sehingga dosennya ikut gila”. Tak hitung detik CH riuh dengan tawa kegelian ini.
Saat pemutaran film pun datang, dengan antusias peserta yang kebanyakan adalah mahasiswa Ilmu perpustakaan dan Perpustakaan informasi Islam UIN Sunan Kalijaga menyasikan film Pasca Cetak karya Fuad Asrori. Setelah nonton film ini, banyak penilaian yang datang. Tak banyak dari hadirin yang menilai film ini biasa. Bagi saya film ini gk bagus, tapi film ini mantap, cetar membahana kata Syahrini J biarkan orang mau menilai apa, belum dapat “rasa” nya az paling ya...
Saya bangga dengan jurusan saya. Ternyata pandangan khalayak yang meragukan tugas dan profesi pustakawan, tak menyurutkan semangat para dosen dan yang terlibat didalamnya untuk membantah anggapan2 tersebut. Patut ditiru, semoga semangat saya selalu terpupuk.

Minggu, Februari 24, 2013

Pustakawan Bukan Profesi Sembarangan




Pandangan masyarakat luas tentang keilmuan dan implementasi ilmu di bidang perpustakaan ini dinilai sia-sia. Masyarakat lebih menilai seorang pustakawan menjaga dan merapikan buku di perpustakaan semata. Meski pustakawan sudah diakui oleh pemerintah. Pandangan masyarakat ini menjadi sedikit halangan mental baik bagi pustakawan ataupun calon pustakawan, jika tidak mampu memaparkan apa sebenarnya tugas pustakawan itu.
Begitulah gambaran masyarakat yang masih awam dengan perpustakaan. Apalagi dengan adanya peristiwa mengagetkan. Penempatan Anas Efendi sebagai kepala Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Jakarta. Mutasi kerja beliau disebabkan kinerja yang dinilai tidak baik. Mutasi yang didasari prerogatif Joko Widodo sebagai Gubernur ini menimbulkan reaksi bagi pengamat politis, masyarakat dan tentunya akademisi yang mengerti tentang perpustakaan. Anggota Komisi X DPR, Raihan Iskandar menyebutkan bahwa “Masyarakat mengkritisi langkah Jokowi ini karena terkesan menjadikan perpustakaan sebagai tempat buangan.” Perpustakaan bukan gedung yang bisa diurus oleh siapa saja. Perpustakan harus berada digenggaman orang yang ahli di bidangnya. Sesuai dengan UU no 43 tahun 2007 yang berbunyi : Perpustakaan Nasional, perpustakaan umum pemerintah, perpustakaan umum kabupaten/kota, dan perpustakaan perguruan tinggi dipimpin oleh pustakawan atau oleh tenaga ahli dalam bidang perpustakaan.
Indonesia memiliki sumber daya manusia yang komplit. Ini sangat memungkinkan untuk Indonesia lebih maju lagi. Begitupun dengan perpustakaan yang ada di Indonsia. Indonesia juga memiliki system perpustakaan yang bagus. Kenapa tidak, alumnus-alumnus yang mendalami ilmu perpustakaan di luar negeri ini sangat gencar membangkitkan perpustakaan Indonesia yang masih belum rata dalam perkembangannya. Semangat juang mereka patut diacungi jempol. Namun, pustakawan harus selalu mendukung dan ikut serta membangkitkan semangat dalam melakukan pelayanan di perpustakaan. Begitupun calon pustakawan harus belajar dengan sisem yang telah ada diikuti dengan pengembangan kreatifitas. Pengembangan kreatifitas ini bertujuan agar perpustakaan menjadi tempat favorit untuk dikunjungi, tidak ubahnya tempat wisata ilmu pengetahuan atau wisata informasi.
Lahirnya pustakawan yang ahli di bidangnya akan menciptakan perpustakaan sebagai sarana dan wadah temu kembali informasi yang efisien. Sistem temu kembali yang dilakukan di perpustakaan harus lebih gampang dari apa yang ada di search engine pada umumnya. Pustakawan harus berusaha meyakinkan masyarakat bahwa informasi yang ada di perpustakaan adalah informasi yang telah melewati masa seleksi. Seleksi yang menjadikan informasi yang ada menjadi lebih dipercaya dan dapat ditelusuri kebenarannya.
User education yang sering dilakukan kepada anggota baru di perpustakaan. User education yang bertujuan untuk mengenalkan profil perpustakaan sampai pengenalan bagaimana cara temu kembali dan sirkulasi dilakukan.  Selain itu mungkin pustakawan harus bisa menjelaskan bagaimana informasi atau bahan pustaka didapatkan. Penjelasan secara singkat dari mana bahan pustaka itu berasal, bagaimana bisa buku ini dimasukkan dalam daftar inventaris. Semua itu melalui seleksi bahan pustaka. Dengan demikian baik anggota perpustakaan akan yakin bahwa informasi yang dimilikinya merupa kan informasi yang akurat dan bisa dijamin kebenarannya.
Pustakawan sebisa mungkin menjelaskan bagaimana informasi itu disaring. Ini memberikan gambaran bahwa pustakawan tidak hanya menjada rak buku, atau merapikan buku yang berserakan saja. Pustakawan harus jeli dalam melakukan tugasnya. Keetelitian pustakawan dituntut dlam pengatalokan dan pengklasifikasian koleksi perpustakaan. Pengatalogan yang dilakukan itu membutuhkan keahlian tersendiri. Pengklasifikasian tak kalah rumitnya dengan katalogisasi. Kenapa tidak, salah mengklasifikasi satu digit angka klasifikasi menyebabkan buku atau koleksi perpustakaan jadi salah penempatan raknya. Ini mengakibakan informasi menjadi susah ditemukan
 Begitu juga dengan management yang ada di perpustakaan. Management yang ada tidak sama atau berbeda dengan management pada umumnya. Management perpustakaan sedikit berbeda. Pimpinan sebuah perusahaan tidak bisa dipastikan mampu mengenggam amanah dalam management perpustakaan. Begitu juga dengan Anas Efendi yang dimutasi sebagai kepala BPAD Jakarta. Hak proregatif Joko Widodo dinilai relative menabrak aturan perundang-undangan seperti yang tercantum diatas.
Pustakawan harus mampu melakukan hal yang harus dilakukannya. Buktikan bahwa kerja Pustakawan bukan kerja gampangan yang mampu dilakukan siapa saja. Pustakawan bukanlah profesi buangan. SALAM PUSTAKAWAN INDONESIA.

Sabtu, Februari 25, 2012

Library of Sumatera Thawalib Parabek Bukittinggi, Islamic Boarding School

"Selamat Pagi Indonesia, selamat pagi Keluarga Besar Sumatera Thawalib Parabek, Keluarga besar Yayasan Syekh Ibrahim Musa." Kalimat ini yang setiap hari ku dengarkan yang selalu membuat ku teringat masa2 indah dulu. Sekolah ini terletak di antara Gunung Singgalang dan GUnung merapi, pemandangan yang masih sangat asri, dan jauh dari jalan raya, tepatnya di Kecamatan Banuhampu. Sekolah yang lahir sekitar tahun 1910 ini terus merangkak menuju kesuksesan mempersiapkan alumnus2 yang mampu menjadi intelektual muslim. selama enam tahun ku disana, sudah beberapa kali perombakan perpustakaan. awalnya perpustakaan ini terletak di depan kampus, tepat di sebelah koperasi santri. saat itu perpustakaan yang sangat sempit, namun koleksi yang kurang tersusun rapi memberikan motivasi untuk merubah letak dan posisi ruangan tersebut. akhirnya perpustakaan ini pindah ke lantai 2 gedung kampus. mulai dari sini perkembangan perpustakaan sangat pesat dengan tersedianya perpustakaan yang  menyediakan ebook2, maktabah syamilah dll. perpustakaan yang sangat nyaman ini menjadikan santri2 yang sedang mengenyam pendidikan disana semakin ingin membaca. ditandai dengan perpustakaan yang tidak lagi sepi setiap jam istirahat.namun, tidak selang beberapa tahun, perpustakaan yang sediakalanya berada di lantai dua gedung kampus, yang ukurannya lumayan besar. dipindahkan ke depan gerbang kampus, dengan tujuan dengan berkembangnya koleksi perpustakaan yang lebih banyak lagi untuk bisa digunakan oleh masyarakat umum. ini semua dikarenakan kitab2 kuning lebih lengkap di kampus ketimbang di IAIN yang ada. Bertujuan untuk menjadikan perpustakan ini menjadi rujukan utama untuk kajian keagamaan.
perpustakaan yang hanya terdiri dari dua orang staff ini, dimana salah seorang dari mereka merupakan seorang sarjana ilmu perpustakaan fakultas adab dan ilmu budaya UIN Sunan Kalijaga dan salah satu nya lagi merupakan sejarawan. Tapi kinerjanya belum sempat ku perhatikan secara terperinci karena pustakawan ini mulai bergabung dengan Yayasan Syekh Ibrahim Musa ini belum lama saat ku berhasil masuk ke dalam daftar nama alumni Sumatera Thawalib Parabek Bukittinggi ini. namun sesuai informasi yang aku dapatkan bahwa pustakawan ini sudah mulai menggunakan ilmu nya untuk menjadikan perpustakaan untuk lebih baik, dimulai dengan pengklasifikasian dan sebagainya.
perkembangan yang cukup pesat ini, perpustakaan memiliki koleksi yang tergolong lengkap dari perpustakaan sekolah lainnya, dimulai dari koleksi buku2 pelajaran, kitab2 kuning yang menjadi ciri khas dari perpustakaan ini, roman, majalah, novel dsb.namun masih saja seperti pustaka sekolah lainnya, pustaka masih memiliki koleksi buku pelajaran lebih dari sepertiganya.
Pada saat penerimaan santri baru, seperti biasa nya diadakan daurah yang merupakan sejenis sosialisasi pembelajaran. Pada saat itu juga terdapat gambaran secara global bagaimana perpustakaan tsb. Namun, belum sampai pada user educationnya yang bisa membantu pemustaka untuk melakukan sirkulasi. Adapaun otomasi yang digunakan adalah otomasi yang menggunakan barcode disetiap bukunya, hal ini menjadi lebih mudah dibandingkan dengan prosedur yang digunakan dulunya, prosedur yang dulu kami gunakan adalah menghubungi pustakawan yang ada untuk melaporkan sirkulasi buku yang diinginkan.
Perpustakaan ini sangat memberi kesan nyaman berada dalamnya meski juga ada beberapa pihak yang menjadikan perpustakaan sebagai tempat bercengkrama, curhat dan sebagainya. Ini menjadikan perpustakaan menjadi tempat favorit bagi santri2 yang sangat gemar membaca meski itu tidak terlalu banyak. Semua sangat mengharapkan perpustakaan yang sudah ada sekarang menjadi lebih berkembang, baik itu dari segi pelayananya, otomasi dsb. Dan sebagai alumni yang insyaALLAH akan menjadi pustakawan yang akan mengembangkan perpustakaan ini, ingin mengupayakan bagaimana perawatan buku yang mungkin dimulai dengan sirkulasi udara.karena menurut ku dimulai dari hal ini perpustakaan akan menjadi bukti sejarah, baik itu sejarah perkembangan dunia dengan buku2 yang ada, perkembangan Indonesia, dan secara khusus nya akan menjadi saksi bisu perkembangan Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek Bukittinggi. dan sesuai saran dari seorang guru bahwa aku harus memikirkan bagaimana mengupayakan agar santri yang ada di dalam pustaka itu benar2 menjadikan pustaka sebagai ilmu dimana tempat yang sangat nyaman untuk membaca dan tidak ada kebisingan yang terjadi. dan juga memikirkan untuk menjadikan pemustaka menjadi orang yang dewasa dalam menggunakan perpustakan sesuai fungsi utamanya. dengan tidak curhat, ngobrol, dsb yang dinilai akan mengganggu kenyamanan yang lain. mungkin ini sangat ringan untuk dipikirkan, tapi akan lebih susah untuk direalisasikan.
ada beberapa foto yang bisa dilihat yang sempat ku abadikan saat liburan semester kemarin.
*jika dilanjutkan cerita tentang sekolah ini, akan sangat banyak yang akan diceritakan, ini tak akan menghilangkan dan mengurangi rasa cinta terhadap kampus ini.radiallahu 'an syekh ibrahim musa
foto koleksi perpustakaan Sumatera Thawalib Parabek Bukittinggi



serangkaian komputer yang digunakan untuk melihat koleksi ebook dan maktabah syamilah.. dan insyaAllah akan berkembang kepada perpustakaan multimedia yang terkoneksi dengan perpustakaan besar baik itu dalam negeri dan luar negeri

banner regulasi perpustakaansarana yang ada dalam perpustakaan


sedikit banyak nya demikian